Sekar Langit dalam bahasa jawa, sekar berarti bunga, dan langit berarti langit, maka jika diterjemahkan berarti bunga yang turun dari langit. Air terjun Sekar Langit merupakan tetesan mata air yang berasal dari puncak Gunung Telomoyo, gunung yang membatasi antara kota ySalatiga dan kota Magelang di Jawa Tengah.
Air Terjun Sekar Langit memiliki ketinggian sekitar 30 meter dan aliran airnya nanti akan mengalir ke arah barat menuju ke aliran sungai Elo dan selanjutnya bermuara di laut selatan Jawa.
Legenda
Warga sangat menghormati air terjun yang satu ini, hal ini lantaran sebuah runtutan kisah dongeng klasik legenda Joko Tarub, seorang pria iseng yang mengintip dan mencuri selendang bidadari yang sedang mandi di sebuah air terjun.
Warga disekitar air terjun ini percaya bahwa air dari Air Terjun Sekar Langit memiliki khasiat, baik untuk penyembuhan penyakit yang ringan seperti gatal-gatal sampai kepada penyakit kronis. Selain itu juga air ini dapat menambah aura kecantikan bagi seorang perempuan. Caranya d engan mandi atau cukup sekedar membasuh muka saja. Ada pula anggapan lain tentang erotisme khasiat dari air terjunt ini, yaitu mampu untuk menambah padat, berisi dan kencang payudara bagi perempuan. Caranya adalah sambil mandi, air terjun yang mengucur ini langsung dikenakan ke bagian utama identitas kewanitaan ini baik secara langsung atau boleh juga dikenakan sedikit demi sedikit atau diserempet-serempetkan saja. Yang penting, air dari Air Terjun Sekar Langit harus mengenai payudara secara langsung sebelum air tersebut jatuh menyentuh bumi.
Bahkan bagi yang sulit mendapatkan jodoh terutama kaum pria, tempat ini sering dijadikan tempat untuk melaksakan keingingan tersebut di atas..
Ritual untuk mendapatkan jodoh biasanya dengan melakukan meditasi di malam hari, yaitu pada malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon, dengan cara membakar dupa atau kemenyan sambil menghadap ke arah timur laut. Umumnya tempat yang dipilih untuk melakukan ritual tersebut adalah di sebuah batu berdiameter sekitar 5 meter yang terletak di sebelah selatan air terjun. Konon di tempat ini adalah tempat yang paling makbul, dimana dulunya Joko Tarub mengintip bidadari-bidadari yang sedang mandi di Sekar Langit tersebut.
2 . Air Terjun Kedung Kayang

Air Terjun Kedung Kayang berada di lereng Gunung Merapi dan memiliki ketinggian kurang lebih 40 meter. Obyek wisata ini terletak 3 Km dari obyek wisata Gardu Pandang Ketep Pass, searah menuju Kabupaten Boyolali.
|
Lokasi
Terletak di Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang,Propinsi Jawa Tengah.
Peta dan Koordinat GPS: 7° 30' 0.78" S 110° 23' 38.45" E Aksesbilitas
Berjarak kurang lebih 19 km dari Blabak di jalur Blabak-Boyolali. Wisata Grojogan Kedung Kayang ini searah dengan wisata Ketep di Sawangan. Jadi sebelum naik ke Ketep ada jalan ke kanan yang menuju ke Selo - Boyolali, sekitar 5 -6 km dengan jalan yang berliku.
Akses ke objek wisata ini relatif mudah dijangkau baik menggunakan kendaraan pribadi atau umum dengan kondisi jalan beraspal yang relatif baik. Pintu masuk ke lokasi ini dapat dari kota Muntilan, Salatiga atau Boyolali.
Bagi yang menggunakan kendaraan umum ada dua jalur yang dapat digunakan untuk tiba disana. Untuk jalur pertama, jika naik bus AKAP dapat turun di sebelah timur komplek Pabrik Kertas Blabag Magelang dan lalu naik angkudes jurusan Tlatar Sawangan. Setelah sampai di Tlatar berganti angkudes jurusan Jrakah. Sedangkan untuk rute kedua, dari bus AKAP dapat turun di terminal Muntilan kemudian berganti angkudes jurusan Pasar Talun. Setelah sampai di Pasar Talun, berganti angkudes jurusan Jrakah. Estimasi biaya jika berangkat dari Jogjakarta dengan bis AKAP turun di pabrik kertas Blabag Rp.7.000,-, angkudes Blabag-Tlatar Rp3.000,-, Tlatar – Jrakah turun di Wonolelo Rp.4.000,-.
Setibanya di area obyek wisata ini akan ditemui pintu gerbang sederhana yang terletak pada jalan yang membelok, dimana di dekatnya terdapat jalan kecil menuju bumi perkemahan. Kurang lebih 100 m selanjutnya akan di temui area parkir kendaraan. Untuk menuju lokasi grojogan ini masih harus berjalan sekitar 15 menitan atau sekitar 200 m jaraknya. Dari tempat parkir ini sekitar 100 m akan ditemui jalan percabangan 2, yang lurus dan ke kiri. Untuk yang berbelok kekiri
sedangkan yan yang lurus sejauh kurang lebih 1 km dengan cara memutar melewati persawahan dan aliran sungai.
Sesampainya di lokasi, dari tempat parkir masih harus jalan sekitar 15 menit atau sekitar 200 m untuk benar-benar sampai di air terjunnya. Ada dua jalur untuk menuju grojogan ini. Yang pertama, jalan lurus langsung sehingga bisa melihat pemandangan grojogan dari atas dan bawah. Atau yang kedua, jalan ke arah kiri yang hanya bisa melihat pemandangan grojongan dari atas. Kondisi ke dua jalur ini berliku dan sudah dibuatkan undakan, walau sebagian kecil belum ada pagar pengaman.
Tiket dan Parkir
Tiket masuk adalah Rp 2500 perorang dan parkir sebesar Rp 1000.
Fasilitas dan Akomodasi
Fasilitas yang ada antara lain toilet, kedai makan, bumi perkemahan dan tempat parkir.
|
3 . Air Terjun Curug Silawe

Curug Silawe terletak di sebelah selatan lereng Gunung Sumbing di Dataran Tinggi Dieng dengan ketinggian 500 m dpl. Curug yang berketinggian sekitar 60 m tersebut terdiri dari dua. Yang pertama adalah yang berdebit air besar dan yang kedua berdebit kecil. Untuk yang pertama sering disebut dengan Curug Silawe seakan-akan seperti Lawe (sarang laba-laba dalam bahasa Jawa). Bagian bawah dari curug ini terdapat semacam kolam yang terbentuk akibat hempasan air dari atas tebing. Di kalom ini pengunjung dapat bermain air karena memang tidak terlalu dalam airnya.
Sedangkan yang kedua disebut Curug Sigong. Curug Sigong sendiri terletak di sebelah kanan ke arah hilir dari Curug Silawe dan memiliki ketinggian sekitar 150 m. Dinamakan sigong karena dahulu kala pada malam-malam tertentu sering terdengar suara bunyi gong dari arah air terjun ini. Untuk dapat bermain air disekitar limpahan dari air terjun Si Gong ini, pengunjung harus menyeberang aliran Silawe dan menaiki anak tangga kembali kearah kanan dari Silawe.
Kedua curug ini dikala musim kemarau tidak banyak airnya. Setiap sebelum bulan puasa dimulai, warga sekitar air terjun ini acapkali mengadakan ritual yang sering disebut “Ngloro Sengkolo”, dimana dalam ritual tersebut diharuskan membawa gunungan hasil panen milik warga setempat dengan cara diarak dari Lapangan Sutopati sampai Curug Silawe . Dalam ritual ini selain untuk membersihkan diri baik batin maupun fisik juga menandakan rasa syukur kepada yang maha kuasa atas limpahan rezeki yang mereka terima dari hasil pertanian selama satu tahun.
|
Lokasi
Terletak di Dusun Kopeng Kulon, Desa Sutopati, Kecamatan Kajoran,Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah
Peta dan Koordinat GPS: S 07.45820’ dan E 110.07240
Aksesbilitas
Berarak sekitar 40 km dari kota Magelang. Dapat kita tempuh dari arah kota Magelang maupun dari candi Borobudur. Masing-masing mungkin akan memakan waktu sekitar 30-45 menit untuk sampai ke sana.
JIka berangkat dari kota Magelang, jalur yang diambil adalah arah Bandongan – Kaliangkrik – Sutopati. Sedangkan jika dari arah Candi Borobudur maka jalur yang diambil adalah kearah Purworejo, Setelah melewati SPBU sekitar 2.5 km, akan ditemui pertigaan Krasak. Di pertigaan ini ambil jalur kekanan, kearah Kaliangkrik. Setelah sekitar 11 km perjalanan nantinya akan ditemui pertigaan dengan pembatas ditengahnya. Ambil jalur ke kiri kearah kalurahan Sutopati. Jika lurus sekitar 500m akan sampai ke pasar Kaliangkrik dan sampai kota Magelang.
Pilihan jalur kedua ini mempunyai nilai lebih karena sejak pertigaan Krasak kita akan disuguhi pemandangan alam yang begitu indah, barisan persawahan dengan terasiringnya dan dibatasi perbukitan nun jauh disana. Keindaahan ini akan lebih nyata terlihat kala masa panen atau masa tanam. Air yang mengalir dari satu petak ke petak lain dibawahnya merupakan ornament alam yang cukup indah. Meskipun melewati areal persawahan, namun udaranya begitu segar, tidak panas. Dari pertigaan ini sampai perempatan Kalurahan Sutopati jaraknya sekitar 2 Km dengan aspal yang masih mulis. Di perempatan Balai Desa Sutopati, setelah SD Sutopati 2 ini, kita ambil jalur yang lurus menanjak. Dari sini jalan sudah mulai sempit dan jika 2 mobil berpapasan, harus ada yang berhenti dan menepi dahulu meskipun jalan masih dilapisi aspal, namun merupakan kualitas aspal jalan kampong. Sekitar 1 km kemudian aspal habis dan jalan hanya dilapisi dengan tatanan batu sehingga agak menyulitkan untuk pengendalian kendaraan, apalagi beberapa tanjakan begitu curam dan tinggi. Jalur jalan 2 km menuju lokasi ini pun menampilkan pesona alamnya yang eksotik.
Dari tempat parkir kendaraan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 200 m menuruni jalan setapak berbatu yang sudah dibuat tangga dengan semen.
Tiket dan Parkir
Tiket masuk adalah Rp 2000 per orang plus asuransi jasa raharja Rp250. Biaya parkir adalah Rp 1000 untuk kendaraan roda dua
Fasilitas dan Akomodasi
Fasilitas yang ada di sekitar lokasi antara lain tempat parkir walaupun tidak luas, warung-warung makan yang dijajakan di sekitar lokasi oleh warga setempat dan toilet.
|
4 . Ketep Pass
Lokasi Ketep Pass berada di puncak Bukit Sawangan (pertengahan antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu). Ketep Pass berada pada ketinggian 1200 meter dpl dan luas areanya kurang lebih 8000 meter persegi. Ketep pass ini berjarak 21 km dari Mungkid, 17 km dari Desa Blabak ke arah timur, 30 km dari Kota Magelang, 35 km dari Kota Boyolali, dan 30 km dari Candi Borobudur. Dari Kota Salatiga yang berjarak sekitar 32 km, Ketep Pass dapat dicapai melalui Kopeng dan Desa Kaponan. Lokasi obyek wisata Ketep Pass ini mudah dijangkau baik dengan bus besar, minibus, sedan atau sejenisnya maupun sepeda motor karena medan jalannya yang tidak terlalu susah untuk dilewati.
- Sebagai sarana dokumentasi. Fungsi ini bisa didapat dari adanya film dokumenter yang diputar di dalam bioskop mini.
- Sebagai sarana peragaan. Fungsi ini bisa didapat dari adanya komputer interaktif yang menyimpan data-data tentang Gunung Merapi. Komputer ini tersedia di dalam Volcano Centre.
- Sebagai sarana edukasi. Fungsi bisa didapat dari adanya Volcano Centre dan Volcano Theatre.
- Sebagai sarana penelitian. Yakni sebagai lokasi pengamatan aktivitas Gunung Merapi.
- Sebagai sarana rekreasi. Fungsi ini bisa didapat dari adanya gardu pandang dan pelataran Panca Arga.
Merapi berselubung debu, setelah letusan 2006. Difoto dari Ketep Pass
- Museum Vulkanologi: Museum ini memiliki luas kurang lebih 550 m persegi. Di dalamnya berdiri miniatur Gunung Merapi, komputer interaktif yang berisi tentang dokumen kegunungapian, beberapa contoh batu-batuan bukti letusan dari tahun ke tahun, poster puncak Garuda yang berukuran 3x3m, poster peringatan dini lahar Gunung Merapi, dan juga beberapa foto dan poster yang menggambarkan kisah dari aktivitas Gunung Merapi.
- Bioskop mini: Memiliki kapasitas tempat duduk yang cukup banyak, yaitu 78 kursi. Bioskop ini menyajikan film berupa sejarah dari Gunung Merapi yang meliputi peristiwa terbentuknya Gunung Merapi, jalur-jalur pendakian,penelitian di puncak Garuda, letusan dahsyat Gunung Merapi, dan berbagai peristiwa yang terjadi dalam rentetan waktu tertentu. Durasi dari film ini cukup pendek, hanya sekitar 25 menit.
- Teropong: Jumlah teropong yang ada di Ketep Pass ini adalah dua buah. Masing-masing berada di puncak Panca Arga dan Gardu Pandang.Dengan alat ini, para pengunjung dapat melihat dengan jelas keindahan panorama Gunung Merapi, Merbabu dan gunung-gunung yang lain.
- Pelataran Pancaarga: Mempunyai arti lima gunung. Lokasi ini merupakan puncak tertinggi di Obyek Wisata Ketep Pass. Dari puncak tertinggi ini pengunjung dapat melihat 5 gunung, yaitu Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Slamet. Selain kelima Gunungtersebut pengunjung juga dapat melihat dan menikmati gunung-gunung kecil dan bukit-bukit yang sangat indah antara lain Gunung Tidar, Gunung Andong,Gunung Pring, Bukit Menoreh, Bukit Telomoyo, dan lain-lain.
- Gardu panjang: Berupa dua buah gazebo masing-masing dengan ukuran empat persegi panjang dan bangunan segi delapan dengan panjang panjang sisi lima meter. Dari Gardu Padang ini, pengujung dapat melihat keindahan alam Gunung Merapi dan Merbabu, serta hamparan lahan pertanian yang ada di kedua kaki Gunung tersebut.
Info Harga Tiket Obyek Wisata Ketep Pass[sunting | sunting sumber]
Harga tiket masuk yang berlaku sampai saat ini adalah sebagai berikut :
- Tiket Masuk Area dan Museum : Rp7.500,-/orang (Rp.500,- Asuransi Pengunjung)
- Tiket Ketep Volcano Theatre : Rp7.000,-/orang
- Tiket Teropong : Rp3.000,-/orang
- Tiket Wisata Mancanegara : US $ 3,-/orang (free all facilitas)
- Parkir Sepeda Motor : Rp2.000,-/unit
- Parkir Mobil : Rp5.000,-/unit
- Parkir Mini Bus : Rp7.000,-/unit
- Parkir Bus Besar: Rp12.000,-/unit
5 . Tempat Pemancingan Nariban
6 . Gunung Kukusan
Banyak orang berburu mentari pagi dari berbagai puncak gunung. Salah satunya dari Gunung Kukusan di Dusun Wonokerto, Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Magelang, Jawa Tengah.
Gunung ini berbatasan langsung dengan perkebunan teh di Desa Nglinggo, Kulonprogo, DIY. Untuk menuju ke sana bisa ditempuh melalui Jogya maupun Magelang. Umumnya para wisatawan memilih melalui Yogyakarta.
Para penikmat sunrisebiasanya ke Gunung Kukusan menggunakan kendaraan pribadi baik motor maupun mobil. Pasalnya tidak ada angkutan umum yang sampai ke wisata alam tersebut.
Dari Kota Yogyakarta, perjalanan bisa dimulai dari Jalan Godean, Jembatan Sungai Progo, perempatan Kentheng belok kanan, perempatan Dekso belok kiri, pertigaan Plono pasar belok kanan, Kebun Teh Nglinggo.
Apabila menggunakan angkutan umum bisa dari Terminal Giwangan, lalu naik bus jurusan Wates dan turun di Terminal Wates lalu lanjut menyewa ojek. Atau bisa pula naik kereta dari Stasiun Tugu ke Wates, turun di Stasiun Wates dan lanjut naik ojek.
Kereta ke Stasiun Wates tidak tersedia setiap saat, kereta yang bisa digunakan yakni kereta Prameks rute Yogya-Prembun pukul 04.30, 06.35, dan 17.26 WIB, dengan harga tiket Rp 15.000.
Untuk menuju Gunung Kukusan di Dusun Wonokerto, Desa Ngargoretno, Magelang, pengunjung masuk melalui Desa Wisata Nglinggo, Kulonprogo, Yogyakarta. (Tribunnews.com/Theresia Felisiani)
Gunung Kukusan memiliki dua puncak, yakni Puncak Kendeng dan Puncak Dempok. Biaya yang dikeluarkan juga cukup murah yakni Rp 3.000 per orang ketika masuk ke Desa Wisata Nglinggo, dan Rp 2.000 per orang ketika naik ke Wisata Gunung Kukusan. Serta biaya untuk parkir kendaraan.
Dari area parkir di kebun teh, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 200 meter atau 15 menit ke Gunung Kukusan melewati jalan setapak tanah dan berpasir. Nanti akan ada dua jalan setapak ke dua puncak berbeda.
Jalan setapak ke kiri menuju puncak Dempok yang lebih rendah. Sedangkan jalan setapak ke kanan ke puncak Kendeng, puncak paling tinggi. Kedua puncak itu memiliki pemandangan yang memikat dan indah.
Biasanya banyak orang menghabiskan waktu di Puncak Dempok, pasalnya Puncak Dempok lumayan luas dan ada beberapa kursi sederhana terbuat dari bambu. Sehingga pengunjung bisa duduk santai bercengkerama, berfotoria, sembari menikmati pemandangan.
Ada sensasi tersendiri ketika berada di Gunung Kukusan, kabut dan semilir angin serta rimbunnya hutan makin menambah sempurna keindahan alam. Apabila cuaca cerah, pengunjung bisa memandang Gunung Sindoro, Sumbing, Merapi dan Merbabu dengan sangat jelas. Semburat sang surya dari balik gunung-gunung itu, kian menambah rasa cinta pada kekayaan alam di negeri sendiri.
Kebun teh Nglinggo ini terletak di Dusun Nglinggo Desa Pagerharjo Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, berbatasan dengan Gunung Kukusan yang berada di Magelang. (Tribunnews.com/Theresia Felisiani)
Puas menikmati sunrise, pengunjung bisa kembali turun dan berjalan santai di kebun teh. Di sana tersedia warung-warung sederhana yang menawarkan camilan serta minuman.
Beberapa lokasi wisata lainnya yang bisa dikunjung selain Gunung Kukusan dan kebun teh yakni Bukit Jaran, Hutan Pinus, Gardu Pandang, Bukit Widosari, Watu Amben, serta Air Terjun Watu Jonggol.
Apabila mau ke sana, pengunjung harus benar-benar memastikan kendaraan yang dibawa dalam kondisi baik terutama rem. Karena akan melalui medan yang menanjak, terjal serta berkelok.
Ditambah kondisi jalan di sana juga harus menjadi perhatian karena walaupun jalannya aspal mulus tetapi tidak terlalu lebar. Sehingga apabila ada dua mobil berpapasan, satu mobil harus mengalah dengan berhenti di tepi jalan.
Jadi tunggu apa lagi, segera masukkan Gunung Kukusan ke daftar destinasi wisata Anda berikutnya. Meski cukup mudah untuk menapaki Gunung Kukusan tetapi keindahan alamnya tetap tidak tersaingi.
7 . Candi Borobudur
Nama Candi Borobudur tentunya sudah tak asing lagi bagi Anda. Candi ini disebut sebagai kompleks candi Buddha terbesar di Indonesia, bahkan juga terbesar dunia. UNESCO menetapkannya sebagai salah satu situs warisan dunia pada tahun 1991. Selain menjadi cagar budaya dunia, Candi Borobudur juga menjadi salah satu tempat wisata yang menarik banyak perhatian wisatawan domestik dan juga mancanegara.
Tempat wisata di Jawa Tengah ini memiliki luas 123 x 123 meter persegi dan terdiri dari 10 tingkat. Bangunannya tersusun dari balok vulkanik yang membentuk 504 arca, 72 stupa dan sebuah stupa induk besar di puncaknya. Uniknya, balok-balok ini tersusun tanpa menggunakan perekat ataupun semen, kompleks ini terlihat seperti sebuah susunan lego raksasa.
Candi Borobudur
Dinding Candi Borobudur dihiasi sekitar 1.460 panel relief dengan panjang masing-masing panel 2 meter. Panel-panel relief ini menceritakan mengenai tingkatan kehidupan Buddha. Relief di bagian bawah candi disebut dengan ‘Kamadathu’ yang menceritakan tentang perilaku buruk manusia yang dipenuhi nafsu dunia dan membuatnya masuk neraka. Relief bagian tengah disebut ‘Rapadathu’, bercerita tentang manusia yang sudah terbebas dari hawa nafsu dunia, sedangkan relief teratas adalah ‘Arupadhatu’. Relief ini menggambarkan tingkatan pencapaian teratas di mana para dewa bersemayam.
Selain tiga relief tersebut, sebenarnya masih ada panel relief di bagian terbawah candi yang terkubur. Menurut para ahli sejarah, relief yang terkubur tersebut bernama ‘Karmawibhangga’. Inilah relief yang menceritakan mengenai tingkatan terbawah manusia. Relief ini menggambarkan perilaku buruk manusia yang mengikuti hawa nafsunya seperti membunuh, bergosip dan memerkosa. Bahkan disebutkan ada gambar hubungan suami istri. Penguburan panel relief ini memiliki
Candi Borobudur
Candi Borobudur disebut sebagai salah satu mahakarya terbesar manusia sepanjang sejarah. Susunan balok vulkanik dan pahatan reliefnya merupakan sebuah karya seni yang tak tertandingi nilainya. Tempat wisata ini juga menjadi bukti kemajuan peradaban manusia zaman dahulu dalam bidang arsitektur, teknologi dan seni sastra.
Di kompleks ini terdapat dua museum yaitu Museum Samudera Raksa dan Museum Karmawibhangga. Museum Samudera Raksa berisi berbagai koleksi dan informasi mengenai sejarah perdagangan Asia – Afrika pada zaman dahulu, sedangkan Museum Karmawibhangga berisi informasi mengenai pembangunan Candi Borobudur.
Tak hanya bangunan candi yang menarik perhatian, namun juga pemandangan alam di sekitarnya. Di sebelah selatan candi terdapat Bukit Manoreh yang jika dilihat bentuknya menyerupai seseorang dalam posisi tidur. Selain Bukit Manoreh, masih ada Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi yang mengelilingi bangunan megah ini.
Sejarah Candi Borobudur
Candi Borobudur
Candi Borobudur diperkirakan mulai dibangun pada masa Dinasti Syailendra sekitar abad ke-9 di bawah pemerintahan Raja Samaratungga. Arsitek pembangunan kompleks candi bernama Gunadharma yang berhasil merancang bangunan luar biasa ini meskipun tak mengenal sistem komputer dan teknologi canggih lainnya. Pembangunan kompleks candi terbesar ini dapat diselesaikan sekitar 50-70 tahun kemudian. Nama Borobudur berasal dari bahasa Sansekerta ‘Vihara Buddha Uhr’ yang berarti Biara Buddha di Bukit.
Pada masa itu, Candi Borobudur menjadi pusat kegiatan keagamaan terbesar. Sampai saat masuknya pengaruh Islam pada abad ke-15. Candi ini mulai ditinggalkan oleh masyarakat yang beralih ke agama Islam. Borobudur semakin terlupakan saat terjadi letusan Gunung Merapi yang membuatnya terkubur abu vulkanik.
Candi Borobudur
Pada tahun 1814, Sir Thomas Stamford Raffles mengungkap keberadaan Candi Borobudur setelah mendapat informasi mangenai adanya sebuah bangunan besar yang tertimbun abu vulkanik. Tak hanya tertimbun abu vulkanik, kondisi candi saat ditemukan juga dipenuhi semak belukar.
Sejak ditemukan kembali, pemugaran dan berbagai usaha rekonstruksi candi dilakukan mulai dari masa penjajahan Inggris, Belanda sampai saat Indonesia telah merdeka. Dengan bantuan dari UNESCO dan para ahli sejarah budaya dari berbagai belahan dunia, Indonesia terus berupaya memperbaiki kondisi Candi Borobudur. Setelah lebih dari sepuluh abad terbaikan dan tak terpelihara, kompleks candi ini tetap berdiri kokoh sampai saat ini.
Apa saja yang bisa dilakukan di Candi Borobudur?
Ada banyak sekali hal yang bisa Anda lakukan selama berada di kompleks candi Buddha paling besar di dunia ini, di antaranya:
Mempelajari seni sastra dan budaya
Jika Anda menyukai seni sastra dan budaya, berada di Candi Borobudur tentunya akan menjadi pengalaman yang menarik sekali. Anda bisa membaca dan mengamati panel relief yang tergambar di dinding candi.
Untuk dapat membaca cerita relief ini secara berurutan, Anda harus berjalan mengitari candi searah putaran jarum jam yaitu dari kiri ke kanan. Mulailah dari pintu timur di tingkatan terbawah dan berjalanlah memutar sampai kembali ke pintu awal kemudian naik tangga ke tingkatan berikutnya. Lakukan hal ini terus-menerus sampai ke tingkatan teratas untuk mendapatkan cerita yang berurutan dan utuh. Anda mengalami kesulitan membaca cerita di relief? Tak perlu bingung karena ada jasa pemandu yang siap membantu Anda.
Hunting foto
Tempat wisata ini menawarkan banyak sekali objek foto yang menarik untuk Anda, penggemar fotografi. Cobalah berkeliling kompleks candi ini dan temukan angle yang pas untuk memotret. Candi Borobudur juga dikenal memiliki pemandangan matahari terbit dan terbenam yang cantik. Datanglah pada momen yang tepat, siapkan kamera Anda dan selamat mengabadikan pemandangan cantiknya.
Berburu suvenir
Rasanya tak lengkap jika mengunjungi sebuah tempat wisata tanpa membeli suvenir khasnya. Tak jauh dari kompleks Candi Borobudur, terdapat deretan kios suvenir. Anda bisa membeli beragam barang mulai dari topi, kaos, tas, gantungan kunci sampai miniatur candi. Harga yang ditawarkan bervariasi, gunakan kemampuan Anda dalam menawar sebaik mungkin.
Berkeliling kompleks candi
Di kompleks Candi Borobudur terdapat pelataran hijau luas yang bisa Anda jelajahi. Selain dengan berjalan kaki, Anda bisa menyewa sepeda untuk mengelilingi tempat wisata ini. Anda membawa anak kecil? Cobalah naik kereta kelinci yang pastinya disukai anak-anak. Jika ingin mencoba pengalaman yang berbeda, kenapa tak mencoba naik andong untuk berkeliling?
Apa lagi yang menarik dari Candi Borobudur?
Candi Borobudur
Candi Borobudur menjadi salah satu tempat peribadatan berpengaruh bagi umat Buddha di dunia. Setiap tahunnya, kompleks candi ini menjadi pusat perayaan hari raya Waisak dan didatangi oleh umat Buddha dari berbagai negara seperti Thailand, Kamboja, Cina dan Tibet. Hari raya Waisak dirayakan pada saat bulan purnama di bulan Mei atau biasa disebut dengan Purnama Siddhi.
Puncak dari perayaan Waisak ini mengundang banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Pada saat itu dilakukan pelepasan ratusan lampion ke langit beserta harapan terbaik untuk satu tahun ke depan.
Jam buka dan harga tiket masuk Candi Borobudur
Jam buka
Setiap hari: 06:00 – 17:00
Harga tiket masuk
Dewasa: 30.000 Rupiah untuk WNI dan 15 USD untuk WNA
Anak-anak: 12.500 Rupiah untuk WNI dan 8 USD untuk WNA
Alamat dan transportasi
Candi Borobudur
Candi Borobudur berada di Jalan Badrawati, Magelang, Jawa Tengah.
Cara paling praktis tentu saja dengan menggunakan mobil pribadi atau memakai jasa agen perjalanan wisata. Jika Anda memilih transportasi umum, Ada banyak bus jurusan Candi Borobudur yang bisa Anda temukan di Terminal Giwangan, Jogja.
8 . Candi Mendut
Daftar isi
Reruntuhan candi Mendut sebelum dipugar, tahun 1880.
Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut.
Bahan bangunan candi sebenarnya adalah batu bata yang ditutupi dengan batu alam. Bangunan ini terletak pada sebuah basement yang tinggi, sehingga tampak lebih anggun dan kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap ke barat-daya. Di atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi. Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil. Jumlah stupa-stupa kecil yang terpasang sekarang adalah 48 buah.
Tinggi bangunan adalah 26,4 meter.
Tiga arca di dalam candi Mendut, arca Dhyani Buddha Wairocana diapit Boddhisatwa Awalokiteswara dan Wajrapani.
Hiasan yang terdapat pada candi Mendut berupa hiasan yang berselang-seling. Dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan berupa dewata gandarwa dan apsara atau bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda.
Dinding candi dihiasi relief Boddhisatwa di antaranya Awalokiteśwara, Maitreya, Wajrapāṇi dan Manjuśri. Pada dinding tubuh candi terdapat relief kalpataru, dua bidadari, Harītī (seorang yaksi yang bertobat dan lalu mengikuti Buddha) dan Āţawaka.
Buddha dalam posisi dharmacakramudra.
Di dalam induk candi terdapat arca Buddha besar berjumlah tiga: yaitu Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan ( mudra) dharmacakramudra. Di depan arca Buddha terdapat relief berbentuk roda dan diapit sepasang rusa, lambang Buddha. Di sebelah kiri terdapat arca Awalokiteśwara (Padmapāņi) dan sebelah kanan arca Wajrapāņi.
9 . Candi Pawon
Berbeda dengan candi-candi lain yang tertutup rapat, Candi Pawon memiliki lubang angin pada biliknya. Candi Pawon menjadi titik tengah yang menghubungan Candi Mendut dan Candi Borobudur.
Candi Pawon merupakan candi yang terletak tepat di sumbu garis yang menghubungkan Candi Mendut dan Candi Borobudur. Candi yang berbentuk persegi empat dengan atap bertingkat dan sebuah bilik di dalamnya ini berukuran jauh lebih kecil dibandingkan dengan Candi Mendut. Letak Candi Pawon cukup tersembunyi, dikelilingi rumah penduduk. Tersusun dari batuan vulkanik dengan perpaduan gaya bangunan Hindu Jawa kuno dan India, serta kemiripan corak ragam hias dengan Candi Mendut dan Candi Borobudur, para ahli sepakat bahwa ketiga candi ini dibangun pada abad yang sama. Hal ini dipertegas dengan Prasasti Kayumwungan atau Prasasti Karangtengah yang bertanggal 26 Mei 824 Masehi.
Saat YogYES tiba di Candi Pawon suasana terlihat begitu tenang. Tembang Jawa mengalun pelan entah berasal dari rumah warga atau kios penjual suvenir. Hiasan kala makara terpampang di atas pintu masuk candi. Atap candi yang berbentuk limas dihiasi dengan stupa-stupa berukuran kecil. Sebagai penggambaran dari Gunung Meru, di dinding Candi Pawon terdapat relief mahluk kayangan seperti kinara-kinari (burung berkepala manusia), relief pundi-pundi, relief pohon kalpataru atau pohon hayati, dan relief bodhisattva. Semua relief tersebut terpahat pada dinding luar candi. Sedangkan di dalam candi, tidak ada satupun relief atau arca yang ditemui, yang ada hanyalah bilik kosong.
Menyoal nama candi, kata pawon sendiri memiliki beragam makna dan penafsiran. Dalam Bahasa Jawa katapawon berarti dapur atau tempat yang biasa digunakan untuk memasak. J.G. de Casparis mengatakan bahwa kata pawon berasal dari kata perawuan atau perabuan. Sedangkan penduduk sekitar mengungkapkan bahwa katapawon berasal dari pawuan yang berarti tempat pembuangan atau pembakaran sampah. Semua kata tersebut merujuk pada satu hal yakni adanya api atau proses pembakaran di Candi Pawon. Entah hipotesis mana yang benar, namun di dalam bilik candi terdapat 6 lubang angin yang bisa berfungsi sebagai tempat keluarnya asap hasil pembakaran. Lubang angin ini tentu saja menjadi pembeda arsitektur Candi Pawon dengan candi-candi lain yang biliknya tertutup rapat. Selain dinamakan Candi Pawon, penduduk lokal juga menyebutnya dengan nama Candi Brajanalan yang berasal dari kata vajra (halilintar) dan anala (api).
Sesaat sebelum meninggalkan Candi Pawon, benak YogYES diliputi oleh berbagai pertanyaan. Mungkinkah pada suatu masa Candi Pawon digunakan sebagai tempat kremasi seorang raja? Digunakan sebagai tempat pembakaran peralatan sisa-sisa ritual keagamaan? Atau digunakan sebagai tempat peristirahatan para peziarah sebelum mencapai Borobudur? Semua pemikiran itu memenuhi benak YogYES dan menjadikan perjalanan ini lebih bermakna, tidak hanya bersenang-senang semata.
ULASAN WISATAWAN
PETA LOKASI CANDI PAWON
Masjid Langgar Agung Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro berada di Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Magelang, sekira 100 meter dari tepi jalan raya Borobudur-Salaman. Saat Perang Jawa, daerah sekitar masjid merupakan hutan belantara, dan ketika Pangeran Diponegoro hendak berunding dengan Belanda di Magelang maka dibuatlah tatanan batu untuk dasar sholat di tempat ini oleh Pasukan Pangeran Diponegoro.
Atas prakarsa Jenderal Sarwo Edi Wibowo, pada paruh kedua tahun 1960-an dimulai pembuatan pondasi masjid dengan pengimaman berada di atas tatanan batu yang didirikan oleh pasukan Pangeran Diponegoro itu. Pembangunan masjid selesai tahun 1972 dan diresmikan oleh gubernur Jawa Tengah. Di dalam Masjid Langgar Agung Diponegoro disimpan peninggalan Al-Quran tulisan tangan Pangeran Diponegoro
11. Sungai Progo
Lokasi sungai Progo atas terletak di Kabupaten Magelang yang beralamat lengkap di Perumahan Griya Tok Songo Kota Magelang, Jawa Tengah. Sungai Progo Atas sangat dekat dengan obyek wisata seperti Candi Mendut dan Candi Borobudur. Untuk jarak tempuh bila anda dari kota Jogjakarta adalah sekitar 50 menit. Jeram-jeram yang dimiliki oleh sungai progo atas adalah jeram-jeram yang mempunyai kelas III sampai dengan III+, Sungai progo atas mempunyai jarak 12 kilometer, dengan waktu untuk melakukan wisata arung jeram sekitar 2,5 jam sampai dengan 3 jam. Bagi anda yang masih pemula sekalipun  belum pernah melakukkan arung jeram atau rafting, Sungai progo atas adalah pilihan yang tepat karena tingkat kesulitan dan bahayanya sangat rendah untuk berwisata arung jeram atau rafting bersama keluarga dan teman kantor. Kami tunggu kedatangan anda untuk berwisata arung jeram di Sungai progo atas magelang jawa tengah
Fasilitas :
Rafting Equipment
River Guide/Pemandu
Asuransi
Snack
Makan Prasmanan
Transportasi Lokal
Kamar Mandi
Harga Paket
Rp 750.000,- / perahu isi max 6 orang
|
Lokasi
Terletak Desa Telogorejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, PropinsiJawa Tengah.
Peta dan Koordinat GPS:
Aksesbilitas
Berjarak sekitar 5 km dari Kopeng dari arah utara kota Salatiga. Dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil dengan kondisi jalan sudah beraspal, akan tetapi sangat curam dengan banyak turunan.
Untuk sampai ke obyek wisata Air Terjun Sekar Langit ini, dapat di capai dari dua arah. Arah pertama masuk dari kota Salatiga. Dimana sesampainya di desa Getasan (sebelum Kopeng), ambil jalan ke kanan hingga pintu gerbang. Jarak dari desa ini hingga pintu gerbang sekitar 3-4 km. Sedangkan arah kedua masuk dari kota Magelang melewati daerah Grabag dengan menyusuri perbukitan. Dari Kota Kecamatan Grabag ini, dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10-15 menit, dengan pintu masuknya berada di Dusun Dalangan, Desa Pandean Ngablag.
Selanjutnya dari pintu gerbang menuju air terjun sekitar 500 meter melalui jembatan dan jalan setapak yang menanjak melewati hutan pinus. Di sepanjang jalan terpampang beberapa papan pengumuman yang diletakkan di pohon untuk mengingatkan pengunjung bilmana hujan tiba, harus keluar dari lokasi. Hal ini dikarenakan sering terjadi air bah yang datang dari hulu bila musim hujan tiba. Begitu juga terdapat larangan mandi dan turun ke sungai saat musim hujan tiba.
Tiket dan Parkir
Tiket masuk tiap kendaraan bermotor adalah Rp. 2000 dan mobil Rp. 3000.
|
Tulis ulasan berdasarkan pengalaman pribadi. Ulasan Anda mungkin membantu traveler lainnya. Isi ulasan sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.